Posted by: sudyusbarbassy | 9 Desember 2010

DOAKU SEMOGA KALIAN SELAMAT

Pada tahun 1997-an saya bekerja pada Perusahaan Jepang di wilayah Cilegon. Suatu malam kira-kira jam 9-an sehabis makan malam, saya bersama seorang rekan kerja pulang naik angkot ke arah Merak untuk kembali ke Mess Perusahaan tempat kami tinggal. Di depan persimpangan Polres Cilegon, angkot yang kami tumpangi di stop oleh seorang Bapak yang sedang menggendong anak umur 2 tahunan sambil menuntun 2 orang anak lainnya, kira-kira berusia 5 dan 7 tahun, semuanya anak perempuan. Penampilan semuanya sangat lusuh, anak terkecil tidak pakai sandal sedang yang lainnya pakai sandal jepit yang sudah kotor.

Ketika angkot berhenti Bapak tersebut tidak langsung naik angkot, akan tetapi melongok ke sopir sambil memperlihatkan berapa jumlah uang yang dia miliki. Saya yang duduk di belakang sopir melihat kejadian itu walaupun tidak tahu pasti berapa banyak uang recehan 100 rupiaan yang dia tunjukkan ke sopir, perkiraan saya sekitar Rp 600, padahal normalnya satu orang harus membayar minimal Rp 1000. Bapak tersebut minta izin ke sopir untuk naik angkot walaupun dengan ongkos seadanya. Melihat uang kurang, sopir tidak memperkenankan Bapak itu naik dan hendak maju lagi, saya terperanjat dan berteriak:
”Stop-stop…Pak Supir” kataku kepada Pak Sopir.
”Ada apa Pak?” tanya Pak sopir.
”Tolong Bapak dan anaknya itu dibawa, biar saya yang bayar ongkosnya” kataku kepada Pak Sopir.

Sambil masuk mobil, Bapak tadi mengucapkan terimakasih, lalu duduk di dekat pintu sambil menggendong 2 anak karena yang satunya saya gendong, selanjutnya dia hanya tertunduk, mungkin malu sama penumpang lain yang kebetulan memang angkot sudah terisi penuh. Menyaksikan semua itu saya bergetar, dan naluri saya berkata orang ini pasti sedang membutuhkan pertolongan. Dalam perjalanan saya coba tanya dengan nada simpati :

”Malam-malam begini Bapak mau pergi kemana?” kataku pada Bapak tua tersebut.
”Saya mau pergi ke Pasar Merak” jawabnya datar. ”Kok malam-malam, memang Bapak mau belanja apa?” tanyaku kemudian.
”Bukan, saya mau cari truk sayur, rencananya saya ingin menumpang truk untuk pulang kampung ke Sukabumi” jawab Pak Tua dengan nada sangat pelan hampir tak terdengar karena malu dengan penumpang yang lain.

Mendengar jawaban itu saya tersedak, hati bergetar, air mata saya bercucuran, bukan hanya karena saya keturunan dari Sukabumi, tapi bagaimana membayangkan kalau itu anak balita saya yang harus naik truk dari Merak ke Sukabumi, malam-malam seperti ini. Selanjutnya saya bertaruh pasti keluarga ini belum makan, dan ternyata memang betul.

Ya Alloh, tak mungkin saya membiarkan keluarga ini dengan perut kosong naik truk pulang ke Sukabumi sementara saya tidur dengan perut kekenyangan. Singkat cerita saya ajak keluarga Bapak itu ke tempat saya, lalu saya hidangkan makanan yang saya miliki agar dia bisa makan, saya berikan obat-obatan ringan dan bekal biskuit serta mie instan. Selanjutnya saya antar dia naik angkot ke Merak dan tak lupa dititipi uang untuk beli tiket bis lebih dari cukup.

Anehnya, sekembali saya mengantar keluarga Bapak itu, rekan kerja saya yang sejak awal menemani saya berkata:
”Kamu sebaiknya hati-hati nemuin orang seperti itu, jangan terlalu baik, siapa tahu dia itu seorang penipu, pura-pura gak punya uang dan memanfaatkan anak kecil untuk menarik iba orang lain” kata teman kerjaku menasehatiku.
”Kalau pun dia itu menipu saya, saya ikhlas, uang atau barang yang saya kasihkan tidak seberapa, lebih baik ditipu daripada harus membiarkan orang kelaparan di depan saya tanpa berbuat apapun, kita kembalikan saja kepada Alloh SWT” jawabku kepada temanku tadi.

Saya tidak menyalahkan sikap kawan saya yang acuh tak acuh terhadap penderitaan orang, tapi kebanyakan para penipu masuk lewat cara seperti itu.

Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih buat doa Bapak sekeluarga yang mungkin selama perjalanan pulang ke Sukabumi mendoakan kebaikan untuk saya. Sekarang saya dan anak istri tinggal di Jepang mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah sampai Doktor. Semoga Bapak sekeluarga sampai Sukabumi dengan selamat.

Pesan saya buat semua orang, selalu berbuat baiklah kalian, karena Alloh Maha Kaya, Dia akan memberikan kebaikan dari arah yang tidak kita duga.

Posted by: sudyusbarbassy | 9 Desember 2010

PENJUAL TEMPE

Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe . Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani semua kehidupan dengan riang.

“Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. ..” demikian kata Ibu Zarkasih yang selalu memaknai segala hidup dan kehidupannya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, Ibu Zarkasihpun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan menuju ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, tiba-tiba deg!!! dadanya bergemuruh. Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas hasil dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia membayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang yang akan diolahnya kembali menjadi tempe.

Di tengah rasa putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, diangkat tangannya setinggi-tingginya sambil membaca doa.

“Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku”. Begitulah doa Bu Zarkasih dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.

Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Bu Zarkasih merasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung. Dadanya bergemuruh lagi, dengan pelan penuh kehati-hatian, dia buka daun pembungkus tempe lagi. Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacangnya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi. Bu Zarkasih sangat yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi.

“Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau maha tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku Wahai Dzat yang Maha Rahman dan Rachim” kata Ibu Zarkasih sambil terus berisak tangis.

Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia berusaha membuka lagi daun pembungkus tempe. Harapannya kedelai-kedelai itu sudah menjadi tempe-tempe yang siap dimasak. Pasti telah jadi sekarang, dalam batinnya. Dengan berdebar, dia mengintip dari daun itu, dan ternyata belum jadi juga. Kacang itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tersebut. “Keajaiban Tuhan pasti akan datang, pasti!!!” guman Bu Zarkasih penuh dengan keyakinan.

Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia sangat yakin, bahwa “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Wanita sangat sederhana tersebut berkali-kali berkali-kali memanjatkan doa tak henti-hentinya. Bu Zarkasih berkali-kali meyakinkan dirinya bahwa Allah pasti mengabulkan doanya.

Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu.

“Pasti sekarang telah jadi tempe!” batinnya dalam hati. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan dia terlonjak dengan pasrah karena tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.

Kecewa, air mata janda itu menitik berbutir-butir melintasi keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi juga setelah sekian jam? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk. Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Tiba-tiba dia merasa lapar, dia merasa sendirian.

”Tuhan telah meninggalkan aku” batinnya terus bergelut antara keyakinan, keimanan dan realita yang sedang dihadapinya. Airmatanya kian membanjir. Terbayang esok dia tak dapat berjualan…. esok dia dan ketiga anaknyapun tak akan dapat makan.

Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan teman-temannya sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas pulang. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian seperti ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa sangat berat bagi dirinya.

Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum dan memandangnya.

“Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Apa ibu punya, jika ibu punya saya bisa membelinya dengan harga dua kali lipat!” kata Wanita paro baya yang ada di hadapannya.

Bu Zarkasih bengong, kaget dan terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik paro baya tadi, dia cepat menadahkan tangan.

“Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe ini jadi yang siap dimasak” kata Bu Zarkasih dalam hati. Lalu segera dia mengambil tempenya, dengan setengah ragu, dia meletakkan lagi.

“Jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe” bisiknya pelan.

“Bagaimana Bu, apa ibu menjual tempe setengah jadi?” tanya perempuan itu lagi.

Kepanikan melandanya lagi.

“Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan kedelai itu menjadi tempe ya” ucapnya berkali-kali.

Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, ternyata di balik daun yang hangat itu, dia melihat tempe yang masih sama keadaannya dengan sebelumnya. Belum jadi! “Alhamdulillah!” pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.

Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu.

“Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?” kata Bu Zarkasih kepada Ibu paro baya yang membeli tempe setengah jadinya.

“Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Sulhanuddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dan enak untuk dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?” kata Ibu paro baya sambil menghitung uang untuk membayar.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan “memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok buat kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa. padahal, Allah paling tahu apa yang paling cocok untuk kita. Bahwa semua rencananya adalah sempurna.

Posted by: sudyusbarbassy | 21 Agustus 2009

WANITA DILINGKAR HATI (BAGIAN III)

Selepas maghrib, gerimis memercik. Tanah tak sampai basah, tapi semerbak baunya cukup menyegarkan udara yang terpanggang sepanjang siang. Saat itu bulan Agustus, entah sudah berapa pekan hujan tak pernah menyapa. Desa kecil yang aku tinggali mulai melemah denyutnya. Lampu menyala redup di setiap sudutnya. Taman utama yang diterangi seribu lampu seolah-olah menyapaku dan hendak mengucapkan ”Selamat Datang” bagi putra-putri terbaik desa yang telah meninggalkan kota Bawang Merah selama 3 tahun lebih, tempat tinggalku, Kabupaten Brebes.

Nuansa berbeda terasa dibanding tiga tahun lalu sebelum aku menjadi mahasiswa. Terbayang perjalanan sejarah panjang desa yang aku tempati ini. Di belantara dunia yang dulu menjadi wilayah kekuasaan Van Den Bosh, Wong Londo yang menggali bumi Indonesia dan menuai banyak keuntungan dari sistem Tanam Paksa yang diterapkan pada zamannya, semua berubah sejak tahun 1997. Pabrik Gula yang menjadi urat nadi perekonomian masyarakat tempat tinggalku kini tutup dan berubah menjadi kuburan alat-alat penggilingan tebu yang berkarat sebelum menjadi tanah. Setelah seabad lamanya, tak banyak lagi sisa-sisa kejayaan yang tersisa. Desa yang dulu gilang-gemilang dengan hasil gulanya kini terlihat redup, seolah menjadi kampung mati yang tak bertuan. Tak banyak terlihat sisa kejayaan seperti bangunan tua bergaya eropa misalnya. Yang masih tegak berdiri adalah sisa-sisa gedung megah yang dulu ditempati oleh para karyawan elite yang tinggal di wilayah itu. Konon dia sudah ada sejak 1913, tanpa pernah henti meniup peluit uap setiap pagi yang membangunkan para pekerja dan menandai mulainya aktivitas warga. Kini, putaran roda telah berbalik arah.

Aku masih teringat saat aku menembus 3 Universitas bergengsi tiga tahun lalu, desa yang aku tempati masih memberikan secercah harapan untuk menunjangku menyelesaikan pendidikan di salah satu Institut ternama di Kota Bandung. Bapakku yang menjadi bagian kuli kasar penggiling tebu, masih diharapkan bisa terus mengulurkan dana untuk membiayai kuliah dan menyambung nafas hidupku di kota Bandung walaupun sangat minim. Aku ingat betul saat Bapak bilang kepadaku di kala aku tidak memilih 2 Universitas Ikatan Dinas lainnya.

”Ngger, yen awakmu ndak njupuk kuliah sing ikatan dinas iku, lha biaya kuliah lan uripmu soko endi” (Anakku, kalau kamu tidak mengambil kuliah yang ikatan dinas, lalu biaya kuliah dan hidupmu darimana?) kata Bapakku dengan nada pasrah.
”Wallahu a’lam Pak, mudah-mudahan akan ada jalan lain” jawabku pendek.

Prahara itu ternyata datang sungguhan, Pabrik Gula yang demikian megah dan menjadi tulang punggung perekonomian desa, ambruk diterjang krisis ekonomi tahun 1997. Para pekerja harian lepas, kuli kasar, para staf dan karyawan tingkat tinggipun tidak lepas dari PHK. Tidak tanggung-tanggung, semua simpul tali temali bisnis untuk merajut tebu menjadi gula hilang bak ditelan bumi. Banyak orang bingung dan stess karena tidak punya pekerjaan, tidak terkecuali dengan Bapak.

Dalam rasa panik ketakutan akan kekurangan dan drop out kuliah, aku tetap berharap masih bisa melanjutkan kuliahku. Satu-satunya orang yang bisa menyemangatkanku untuk meraih masa depanku adalah Shanti. Dia begitu mengerti kondisiku, tidak pernah menuntut apapun dan sangat yakin kalau suatu saat aku akan menjadi bagian dari orang-orang sukses. Atas dorongan dan perhatiannya, aku berhasil menjadi laki-laki yang sangat percaya diri, penuh optimistis dalam segala keterbatasan, sangat fokus dalam bertindak dan tidak cengeng jika mendapatkan masalah. Shanti bagaikan malaikat yang terus mengingatkanku di saat aku terlena, dia akan menyemangatiku lewat tulisan tangannya yang indah melalui surat-suratnya. Entah berapa puluh surat yang terkirim olehnya agar aku terus meraih impian masa depanku yang gemilang.

”Sabar saja Mas, mungkin ini adalah bagian dari perjuangan yang harus Mas lakukan untuk menjadi seorang Sarjana Teknik” kata Shanti saat aku bermain ke tempatnya.
”Iya, cuma Mas masih bingung dengan cara apa Mas harus mendapatkan uang sambil sekolah” jawabku datar.
“Berdoalah pada Allah SWT, mintalah jalan keluar kepada-Nya, pasti Dia akan memberinya” katanya saat jiwa ini sedang dirundung kegalauan yang menyengat.

Dalam wajah ayu-nya, dia berucap lembut memompa semangatku untuk terus berjuang dan berusaha sampai impianku tercapai. Karakter keibuan, kematangan berbicara, kesabaran dan ketelatenannya dalam memperhatikanku membuatku tidak bisa lepas dari Shanti. Walaupun banyak wanita cantik lainnya di kota Bandung, tapi tidak akan pernah mampu menggeser apalagi menggoyang hatiku yang sudah terlalu mencintai bidadariku. Shanti adalah penyemangatku dikala lemah, dia pelipurlaraku di saat sedih, dia selalu hadir saat aku membutuhkannya, obat dari segala macam kerinduan dan wanita tanpa batas yang wajib aku cintai.

BERSAMBUNG KE BAGIAN IV

Posted by: sudyusbarbassy | 18 Juni 2009

WANITA DILINGKAR HATI (BAGIAN II)

Kehadiran Shanti dalam anganku mampu meningkatkan semangat dan spirit pada daya juangku yang mulai melemah. Indahnya rasa cinta yang terasakan membuatku semakin yakin akan sebuah masa depan gemilang yang dapat aku raih ketika berdua dengannya. Segala macam energi negatif dalam bentuk rasa malas dan enggan untuk berkarya tiba-tiba sirna dan berubah menjadi energi positif yang mampu mengubahku untuk bergerak ke arah yang lebih baik. Shanti adalah segalanya bagiku, yang mendatangkan rasa aman dan nyaman untuk mensinergiskan segala macam langkah dan semangat baru terhadap tantangan dan hambatan yang datang saat masa pubertasku tiba.

Otak ini terasa lebih mudah untuk berpikir menurunkan persamaan linear dan persamaan kwadrat, mencerna teori relativitas Einstein dan menyerap konsep mol Avogadro. Semangat baca dan menguasai ilmu dalam diriku terasa bagaikan grafik eksponential yang sedang beranjak menuju titik puncak. Ada energi lain yang membuatku makin tergila-gila mencintai ilmu setelah mengenal Shanti lebih dalam. Perubahan demi perubahan yang begitu dramatispun terjadi. Aku ingin membahagiakan dirinya dimasa yang akan datang. Aku tidak ingin mengecewakannya karena aku menjadi bagian dari orang-orang yang gagal mengejar masa depan.

”Shan, apa yang membuatmu mencintaiku” tanyaku kepadanya saat aku apel ke rumahnya.
”Aku tidak tahu Mas, yang jelas Shanti merasa tenang saat berdekatan dengan Mas” katanya sambil jemarinya menyentuh jemariku yang membuat anganku melambung tinggi menembus cakrawala di langit biru.
”Kenapa tidak mencari laki-laki lain saja, bukankah selama ini banyak pria yang berharap padamu” tanyaku lagi.
”Shanti tidak tahu Mas, mungkin ini yang namanya Cinta Pertama” jawab Shanti dengan penuh hati-hati.

Aku semakin terpana mendengar ucapannya. Kalimat demi kalimat yang terucap bagaikan dogma baru yang menyemangatkanku untuk segera membuktikan pada dunia bahwa aku bisa membahagiakan dirinya di masa yang akan datang.

Bersambung ke bagian III

Posted by: sudyusbarbassy | 13 Mei 2009

WANITA DI LINGKAR HATI (Bagian I)

Banyak orang bilang bahwa segala sesuatu yang pertama akan menjadi kenangan tersendiri dan menjadi rangkaian kehidupan yang sangat berarti. Tangisan pertama akan membahagiakan kedua orang tua dan ini terbukti benar setelah aku menjadi orang tua. Aku begitu mengharapkan tangisan pertama semua anakku yang terlahir, karena dengan tangisan itulah yang mengidentifikasikan bahwa bayiku terlahir sehat. Konon bayi yang terlahir tidak menangis dipastikan mempunyai indikasi lain yang perlu dicermati segera, terutama sebab-sebab yang membuatnya tidak menangis.

Pandangan pertama konon akan membuat orang susah tidur. Segala kenangan akan terpatri begitu dalam saat dua pasang mata berbeda jenis kelamin saling memandang dan menatap. Sering muncul paradigma ”Cinta pada pandangan pertama” yang artinya cinta itu tumbuh saat pertama kali bertemu dan saling berpandangan. Ini menjadi hal yang super dasyat, dari dua insan yang sebelumnya tidak saling kenal menjadi saling tertarik dengan gaya medan magnet ribuan voltase yang siap menabrak satu sama lain. Kenangan pandangan pertama akan selalu teringat pada masa perjumpaan yang pertama kali. Reaksi selanjutnya akan ada penjajagan dari kedua insan yang berpandangan.

Malam pertama menjadi sesuatu yang sangat mendebarkan dan begitu dinantikan oleh sepasang mempelai yang akan menuju pelaminan. Malam yang indah itu sekaligus menjadi harapan baru bagi sepasang mempelai untuk menjalani bahtera kehidupan selanjutnya.

Nah, konon kabarnya yang tidak kalah indahnya untuk dikenang sepanjang hidup manusia adalah cinta pertama. Dia menghadirkan semua rasa dalam hidup, dia bisa menjadikan manusia melambung tinggi ke alam astral tak berdimensi, tanpa batas dengan segala kenangan baik yang indah maupun menyakitkan. Cinta pertama menghadirkan segala bentuk kepedulian dan harapan baru pada lain jenis yang sebelumnya tidak pernah terasakan. Cinta yang hadir pertama kali pada saat kita belum mengenal arti cinta lebih jauh itulah yang menjadikan tonggak tersendiri bagi kehidupan kita di masa kemudian. Ya… Cinta pertama memang mengadung sejuta makna bagi kehidupan berikutnya.

Aku mengenal Shanti sebagai gadis desa yang lugu, berparas cantik, berkulit kuning langsat, anak orang kaya, terpandang dan menjanjikan masa depan cerah saat aku duduk di Kelas 3 SMU. Dia begitu indah dan menawan hatiku. Dia bagaikan pelipur lara, obat segala kesedihan dan penyemangat hidupku di masa lalu. Dia adalah bintang yang paling bersinar terang di antara bintang lain yang ada di jagat semesta ini. Dia adalah satu-satunya harapan yang selalu menjadi mimpi bagiku dalam mengejar cita-cita. Dia adalah segalanya bagiku…

Bersambung ke bagian II

Posted by: sudyusbarbassy | 27 Maret 2009

KEBAHAGIAAN ITU RELATIF

Dia masih ingat saat duduk di bangku Kelas 5 Sekolah Dasar. Setiap hari pekerjaannya sehabis pulang sekolah adalah jalan-jalan ke pinggir sungai yang cukup elok menurutnya, kadang mencari kayu bakar, mencuri tanaman meranggas para petani jika lapar di perjalanan, seperti: jagung, kembili, ganyong, ketela pohon, singkong atau apapun jenis makanan sawahan lain yang tumbuh di sekitar sungai kecil tersebut untuk dibakar dan dimakannya di tempat secara bersama dengan teman-temannya. Saat itu, dia sangat merasakan betapa senang dan bangganya jadi anak petani kampung yang memiliki kebebasan berekspresi, kata lain untuk istilah liar. Dia merasakan ada sebuah kebebasan, kesenangan, kebahagiaan dan kedamaian hidup saat dia bergabung dengan komunitas alam lainnya.

Banyak teman yang senasib sepenanggungan dengannya di masa kecil, kadang mereka berjalan beriringan menelusuri pematang sawah untuk bersama-sama mengais-ngais rejeki dengan cara Gampung Bawang, istilah untuk mencari sisa-sisa bawang merah di sawah-sawah yang habis di panen. Mereka berbaris bagaikan tentara-tentara yang siap maju perang ke medan laga. Bersiap mencari sisa-sisa bawang merah yang tercecer dari para kuli songgol yang jatuh ke pematang, selokan, jatuh karena tersenggol parit atau senggaja menyeberot bawang yang sedang digendong para kuli songgol bawang merah. Mereka akan merasa bahagia yang luar biasa senang saat berhasil menjual hasil Gampung Bawang Merah ke para Bakul Bawang, yang merupakan tengkulak kelas kecil dengan mengumpulkan dan membeli bawang merah skala terkecil dalam susunan masyarakat perdagangan Bawang Merah di Kabupaten Brebes.

Cita-citanya sejak kecil tidak lain dan tidak bukan hanyalah menjadi sebagai pedagang barang-barang plastik yang dijajakan dari rumah ke rumah setelah bekerja di sawah dari pagi sampai siang. Inilah yang diharapkannya saat itu, menjadi pengusaha kelas kampung yang cukup berdikari. Cita-cita yang begitu luhur dan bersahaja dari seorang anak petani sepertinya. Sangat realistis.

# # #

Lima belas tahun kemudian, dia melangkah menelusuri pematang sawah dan sungai kecil yang dulu sering dia singgahi dengan semua teman-temannya yang masih dalam satu grup-nya di masa kecil. Tidak banyak perubahan, hanya ada rasa jijik dan alergi gatal yang kemudian kambuh bukan kepalang saat dia berjalan di rerumputan yang biasa dia tiduri dulu. Ada rasa tidak nyaman saat tubuhnya beririsan dengan daun-daun tanaman singkong yang tumbuh di sekitar lokasi sungai. Ada rasa kurang nyaman saat dia berjalan menelusuri sungai itu, padahal dulu, itu adalah sungai yang begitu elok yang mematrikan segala kenangan indah saat masa kecilnya. Sementara teman-temannya yang lain tidak merasakan apa yang dia rasakan. Mereka tetap seperti biasa dengan kondisi alam yang lumrah yang terjadi dalam dirinya masing-masing. Teman-temannya tidak pernah mengeluh gatal, tak nyaman, kurang enak dan sebagainya. Mereka tetap seperti 15 tahun yang lalu saat menelusuri sungai kecil itu.

Methamorfosis hidup dari perubahan ulat kecil menjadi kepompong, kemudian berubah menjadi kupu-kupu kecil dan berangsur menjadi kupu-kupu dewasa yang dialami oleh sekelompok teman masa kecilnya memang berbeda dengan dia. Kebanyakan teman-temannya tetap menjadi petani bawang merah, atau bekerja di pabrik-pabrik di Jakarta, Tangerang dan sekitarnya yang merupakan impian dari kawan-kawannya yang ingin hidup di perantauan. Sebagian lagi ada yang menjadi saudagar bawang merah atau palawija kelas menengah tingkat kampung.

Sementara sekarang dia tergelincir menjadi seorang calon doktor di sebuah institut paling terkemuka di negeri ini, yang bukan merupakan cita-citanya sejak kecil, dia hanya terseret ke gelombang hidup yang menurutnya lebih baik. Dia bekerja menjadi konsultan yang menangani proyek dengan omset milliaran rupiah per tahunnya, dengan penghasilan puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah per tahun, ditambah lagi dengan banyak perusahaan baru yang dia tangani. Pertanyaannya adalah apakah dia merasa bahagia? Atau apakah teman-temannya sekarang merasa sengsara? Tentu jawabannya sangat relatif.

Saat dia berjalan bersama dengan teman kecilnya, mereka tertawa terpingkal-pingkal menertawakannya karena gatal dan bentol-bentol di sekujur tubuhnya. Teman-temannya langsung terlelap saat bersama-sama berada di gubuk yang tidak jauh dari sungai yang sangat kotor, sementara dia tersiksa sangat luar biasa dengan kondisi alam saat ini, padahal 15 tahun yang lalu sama saja, tidur mendengkur. Teman-temannya terlihat makan begitu lahapnya dengan lauk pauk seadanya dan mereka sangat menikmati hidup tanpa banyak memikirkan hal-hal yang rumit tentang kondisi sekitarnya.

Sementara, saat dia tidur di hotel berbintang, belum tentu bisa tidur nyenyak dan mimpi bagus seperti saat dia tidur di gubuk dan pematang sawah 15 tahun yang lalu. Pikirannya terus diliputi dengan perasaan was-was tentang tunggakan dan cicilan hutang perusahaan, gaji karyawan, termin percairan proyek, dan ruwet renteng tentang usaha yang sedang dia kembangkan. Dengan makan yang serba luxs, enak dan mewah juga tidak membuatnya merasa enak dan senang, karena batasan kolesterol dan penyakit lain yang siap menghadang saat dia salah makan. Batasan kesehatan benar-benar menjadi constraint tersendiri baginya saat dia ingin hidup lebih enak.

Yang terpenting bagiku sekarang adalah mensyukuri hidup, dimana dan posisinya sebagai apa, itu tidaklah penting. Kebahagiaan dan kedamaian tidak bisa dilihat secara materi, jabatan, jenis pekerjaan, banyak dan tidaknya teman, apalagi masalah harta. Kebahagiaan dan kedamaian letaknya di hati, bukan pada semua tetek bengek yang bersifat keduniawian. Yang aku tahu, dia jauh lebih senang saat mendapatkan uang rupiah yang dia peroleh dari Gampung Bawang-nya dulu dibandingkan dengan uang hasil proyek-proyeknya sekarang.
# # #

Posted by: sudyusbarbassy | 27 Maret 2009

ANAKKU BUKAN SYNDROME DOWN

Tanggal 10 Januari 2009 lalu, anak ketigaku, Bulan Aurelia Sudiharto lahir ke dunia. Aku sangat berbahagia karena anugerah untuk mendapatkan anak perempuan yang selama ini sangat ditunggu-tunggu oleh istriku datang juga, karena kedua anak-ku sebelumnya cowok. Aku dan istriku langsung sujud syukur kepada Allah SWT karena karunia terindah sudah datang lagi ke keluarga kami.

Aku sangat kaget, tatkala Dokter Profesor yang menangani kasus kelahiran anakku mengatakan bahwa anakku terkena Syndrom Down. Down syndrome adalah suatu kelainan kromosom pada kromosom 21, di mana terjadi penambahan jumlah kromosom. Kromosom manusia ada 22 pasang. Pada mereka yang terkena down syndrome, kromosom yang ke-21 ada tambahan kromosom, atau perpindahan kromosom dari tempat lain, sehingga menjadi kromosom 21 plus yang dikenal dengan nama Trisomi 21. Namanya Trysomi 21/Down Syndrome/Mongoloid – Kromosomnya berjumlah 47 bukan 46 (23 pasang ) seperti anak normal. Kelainan Down Syndrome ini akan diikuti oleh beberapa gangguan antara lain; jantung, mata dan pendengaran, thyroid, kelumpuhan glukoma dan umur pendek, itu adalah diagnosis secara klinis. pada perkembangan physic serta otak anak Mongoloid akan ada dibawah standard anak-anak yang normal.

Penderita dengan tanda khas sangat mudah dikenali dengan adanya penampilan fisik yang menonjol berupa bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah biasanya tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Seringkali mata menjadi sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds). Tanda klinis pada bagian tubuh lainnya berupa tangan yang pendek termasuk ruas jari-jarinya serta jarak antara jari pertama dan kedua baik pada tangan maupun kaki melebar. Sementara itu lapisan kulit biasanya tampak keriput (dermatoglyphics). Kelainan kromosom ini juga bisa menyebabkan gangguan atau bahkan kerusakan pada sistim organ yang lain.Karena ciri-ciri yang tampak aneh seperti tinggi badan yang relative pendek, kepala mengecil, hidung yang datar menyerupai orang Mongolia maka sering juga dikenal dengan Mongoloid.

Kebahagiaan itu segera berubah menjadi kesedihan. Istriku selalu menangis setelah mengetahui bahwa anak ke-3-nya di adjust oleh Dokter ahli kandungan dan Dokter ahli Anak sebagai bayi yang mempunyai kelainan Syndrom Down.

“Mungkin ini semata-mata ujian keimanan dari Allah SWT. Ma, percayalah semua pasti ada khikmahnya” kataku menenangkan istriku.
“Mama ikhlas Pa, hanya saja, Mama selalu terbayang nasib buruk yang akan terjadi pada anak kita kelak” jawab istriku dengan tetap berlinangan air mata.
“Tuhan tidak akan ngasih cobaan melebihi kemampuan kita Ma….sabar, tawakal, berusaha dan jangan lupa berdoa, mungkin Allah SWT sedang menegur kita, dan kita harus bersyukur karena hanya sebagian orang yang mendapatkan dan kepercayaan seperti ini. Tuhan sayang sama kita Ma?” jawabku setenang mungkin untuk menenangkan istriku yang sangat galau dan terpukul melihat kenyataan ini.
“Mama hanya memikirkan nasib Bulan kelak, dia akan sekolah yang berbeda dengan kakak-kakaknya, dia akan dijauhi masyarakat dan lingkungan, dia akan menjadi pribadi yang hanya dilihat sebelah mata oleh orang lain, dia juga tidak bisa menikah dan lain-lain” kata istriku dengan isak tangis yang semakin berat terasakan.

Mendengar penuturan istriku, aku ikut menangis. Mata ini terasa indah dengan tetesan bening air mata yang sudah lama tidak pernah terjadi dalam diriku. Aku hanya bingung mau berkata apa, sebab semua adalah suratan takdir yang harus aku jalani bersama dengan istriku dalam membesarkan buah hatiku, Bulan. Walaupun dengan didikan lain dan sebagainya, aku sudah siap menjalaninya asalkan anakku bisa tumbuh dan berkembang senormal mungkin.

Tujuan akhir dari perkembangan masa kanak-kanak adalah mencapai kemandirian, meskipun semua orang dewasa saling bergantung satu sama lain sampai derajat tertentu. Tidak ada pengobatan spesifik yang dapat diberikan pada penderita Syndrome Down untuk disembuhkan. Semua usaha dilakukan untuk memperbaiki lingkungan sesuai kebutuhan, bukan penyembuhan pada diri si anak.

# # #

Malam itu Bmy dan teman-teman konsultanku datang, aku merasa sedikit terhibur. Saat sebelumnya aku menangis dan menangis. Aku hanya memeluk kedua anakku agar tidak terlalu terlarut dalam menghadapi semuanya. Setelah menjelaskan kelainan Anakku pada teman-teman konsultanku, suasana sedihpun segera menyelimuti. Bmy langsung berkomentar :
”Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan untuk menjustifikasi bahwa anakmu Sindrom Down” kata Bmy kepadaku.
”Tidak mungkin, kedua dokter profesor itu salah, mereka sudah ratusan bahkan ribuan kasus menangani persalinan dan anaknya” jawabku lemah dalam diskusi malam itu.
Bmy hanya terdiam dan menyuruhku agar aku tetap sabar.

Besok paginya aku segera pulang, dan ingin secepatnya sampai rumah. Di tengah perjalanan istriku selalu mencium anaknya dengan tetap menangis. Beban mental yang berat yang selama ini menggelayut dalam pikirannya sedikit terlampiaskan melalui mencium dan membelai anakku dengan penuh kasih. Ibu relatif lebih sensitif dalam perasaan.

Setelah sampai di rumah, aku langsung searching melalui internet, banyak sekali bacaan dan informasi yang aku peroleh dari penyakit ini, baik yang menggunakan bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris. Aku langsung mengeprint-nya, hampir 100 halaman. Kemudian aku baca satu per satu sampai aku mengetahui betul karakteristik dari Syndrome Down itu. Satu per satu tanda dari karakter Syndrome Down, aku cek pada kondisi anakku, dari bentuk kepalanya, matanya, dagunya, rahangnya, kakinya, detak jantungnya, kulitnya, anusnya, kaki dan tangannya, jari-jari tangan dan kakinya, rambut dan sebagainya, sampai pada suatu kesimpulan bahwa :

”Demi Allah Ma, anak kita bukan penderita Syndrom Down. Anak kita adalah anak normal yang terlahir secara sungsang” kataku sambil sedikit berteriak kepada istriku.

Melihat aku sangat yakin dan optimis mengatakan seperti itu, istriku kaget dan langsung mengecek satu-satu dan langsung mengatakan kepadaku.

”Memangnya kenapa Pa, apa yang berbeda?” jawab istriku penasaran.
”Anak yang Syndrom Down akan mempunyai banyak kelainan, jari-jari kaki dan tangan akan lebih pendek dengan satu garis tangan datar, paru-paru akan bermasalah, jantung akan bermasalah, susah/tidak bisa buang air besar, langit-langit pecah, bentuk kepala dengan hidung pesek ke dalam dan pipi menggelembung dengan lidah selalu diangkat dan terus menjulur, kaki tidak balancing, kepala kecil dan kulit sangat kasar. Semuanya tidak ada dalam anak kita Ma?” kataku menjelaskan ke istriku.

Akhirnya istriku mengecek ke semua organ tubuh anakku dan dia kaget karena semua diagnosis kelainan memang tidak ada sama sekali dalam diri anakku. Hanya mata sedikit sipit, dengan pipi tebal mengembang dan lidah yang selalu menjulur.
”Iya Pa, benar. Anak kita adalah anak yang normal sebagaimana anak yang lain, hanya mata dan pipi tebal menggelembung dan lidah yang menjulur yang menyebabkan dokter memvonis bahwa anak kita mengalami kelainan Syndrom Down Mongoloid” jawab istriku dengan roman muka yang sangat ceria.

# # #

Awalnya memang dikabarkan bahwa anakku akan lahir secara sungsang dengan kaki di bawah, kemudian baru badan dan kepalanya. Uji USG kandungan yang dilakukan berkali-kali menjustifikasi bahwa anakku memang akan terlahir secara sungsang. Aku sudah menyiapkan semua dana dan perlengkapan lain untuk kelahirannya secara bedah caesar, agar resiko dapat dimilimalisir walaupun biaya sedikit membengkak. Akan tetapi Tuhan Berkata Lain, saat persalinan terjadi kontraksi yang sangat kuat pada anakku, sampai dokternya geleng-geleng kepala. Kekuatan bukaan yang biasanya berkembang dari bukaan 2 sampai ke bukaan 10 yang biasanya masing-masing 1 jam, ini tidak terjadi. Anakku hanya membutuhkan 3 jam untuk perkembangan bukaan dari bukaan 1 sampai bukaan 10. Semua yang menangani persalinan itu sangat bingung, termasuk suster dan dokternya. Anak ini sepertinya ingin secepatnya keluar. Akhirnya persalinan caesar dipending dan diganti dengan persalinan normal dalam detik-detik itu. Aku menandatangani perubahan keputusan persalinan itu.

Akhirnya anakku-pun lahir secara normal, dengan berat badan 3.000 gram. Wajahnya tampak lebam, muka mepet seperti kena pressure tulang pinggul berlebihan, hidung kecil dan dagu menggelembung dan mulut sering menjulur karena banyak lendir yang ada di hidungnya sehingga dia membutuhkan mulutnya untuk bernafas. Hal inilah yang dijustifikasi bahwa anakku terkena Down Syndrome.

Dalam 2 hari, bobot anakku turun dari 3.000 gram menjadi 2.900 gram yang disertai dengan makin munculnya hidung ke permukaan, dan wajah lebam mongoloidnya hilang berangsur-angsur. Dagunya mulai terlihat lebar dengan tulang pipi tebal sepertiku.
Anakku mirip aku dengan pipi tebal, dahi lebar dan hidung relatif lebih besar. Bertubuh putih, jari lentik dan mata sedikit sipit dengan bulu mata yang jarang adalah bentuk indah dominasi genetik istriku. Kami berdua sangat bersyukur bahwa karunia indah itu memang benar-benar untuk kami.

Aku hanya mengatakan kepada istriku.
”Dokter juga manusia, dia juga kerap salah. Mungkin dikejar setoran agar secepatnya mengeluarkan bayi itu dari perut istriku, sebagaimana konsultan yang akan cepat-cepat menumpuk laporan pada saat akan penagihan termin, yang penting jadi dulu, perbaikan analisa berikutnya adalah masalah nanti” kataku kepada istriku.
”he..he..he.., Iya kali Pa” Istriku hanya tertawa mendengar ucapanku.

# # #

Posted by: sudyusbarbassy | 27 Maret 2009

TAKDIR CINTA

Cinta hanyalah suatu perasaan. Perasaan adalah titik terlemah manusia. Namun disitulah seringkali kita diserang. Perasaan benci bisa mengakibatkan peperangan, pembunuhan, kekerasan, pembantaian dan pembumihangusan sebuah bangsa. Demikian pula dengan perasaan cinta yang berlebihan, ini akan mengakibatkan suatu kegilaan, kekerasaan, kepongahan dan lagi-lagi kesombongan.

Siapakah orang itu yang berani mengancam untuk membunuh dirinya sendiri jika dia tidak menikah dengan orang yang dikasihinya itu?

Sungguh suatu kenaifan jika manusia yang merupakan makhluk Allah SWT yang sangat terhormat dan paling sempurna dari segala macam ciptaan-Nya di bumi dan di langit harus mati dalam sebuah kesia-siaan. Apalagi dalam kesia-siaan cinta.

Sore itu, aku berjalan dalam gontai mengukur kaki langit yang tiada bertepi. Melihat ilalang sawah yang mulai kering karena telatnya air hujan yang turun dari langit. Sebagaimana kondisi hatiku yang sangat kering kerontang akibat penolakan cinta dari seorang dokter muda yang sedang praktek di sebuah Rumah Sakit paling ternama di Kota Semarang. Aku sudah berkali-kali mengungkapkan perasaan cintaku kepada dirinya, entah berapa kali aku mengungkapkannya aku lupa, yang aku ingat hanyalah ”Aku lebih mencintai dirinya dibandingkan dengan diriku sendiri”.

Perang batin antara cinta dan kebencian berada dalam satu titik nadir kegilaan, ibarat saklar on/off yang tidak berada dalam posisi on atau off. Menyala atau mati bagi lampu yang terhubung oleh saklar merupakan pilihan pasti tanpa kegamangan sedikitpun, beda dengan kondisi hatiku saat ini, yang berada dalam dilematis untuk menentukan lanjut atau berhenti melakukan pendekatan pada wanita pujaan hatiku.
Mungkin masalahnya berbeda ketika dia menolakku secara pasti, aku akan segera meninggalkannya dan mencari gadis lain yang tertarik dan mau denganku, mengingat saat itu bukanlah hal yang susah bagiku untuk menempatkan wanita lain pilihanku. Gaya magis tarik ulur dari kaum hawa untuk memikat kaum adam yang terlena menjadi suatu kekuatan tak tertandingi bagaikan medan magnet berkekuatan ribuan volt, yang mampu menyedot diriku dalam bayang-bayang cinta yang sesungguhnya. Ketika aku berhasil mendekat dan hampir pada titik assymtot serta limit mendekati nol, tiba-tiba dia berubah perangainya. Medan magnet yang saling tarik menarik kemudian berubah menjadi gaya tolak-menolak yang begitu cepat, hingga tubuhku terpental ratusan meter akibat gaya tolaknya.

Peristiwa tarik ulur itu hampir terjadi selama 2 tahun yang menyebabkan energiku habis terkuras untuk memikirkannya. Sampai aku tersadarkan oleh anganku sendiri untuk segera melepaskan jaring-jaring maut cintanya yang begitu mencengkeram hatiku yang semakin galau.

”Saat kamu merasakan cinta sejati, kamu menyayangi seseorang apa adanya, memahami kekurangannya dan menutupi kelemahannya sambil melihat sisi terbaiknya, akan tetapi saat kamu cinta buta dengan seseorang, kamu menganggapnya dia begitu sempurna hingga menutupi seluruh kekurangan yang ada pada dirinya hingga kamu tidak bisa membedakan baik dan buruknya karena dirimu sedang dimabukkan oleh ektase yang sedang kamu pikirkan sendiri” Itulah perkataan hati kecilku yang berbisik pada logika warasku agar segera mengakhiri percintaan aneh tersebut, yang selalu menyelimuti kehidupanku akhir-akhir ini.

”Cinta tak pernah ada istilah buta, cinta itu sendiri adalah fitrah dari seorang manusia”, kata buku yang pernah saya baca. Hanya saja yang berbeda adalah cara pengekspresian dari cinta tersebut, yang dapat terlihat secara buta atau tidak. Itu tidak lain dan tidak bukan adalah cerminan karakter kita sendiri. Apakah kita seorang brengsek, seorang pecinta sejati, orang yang setia, seorang yang bodoh, seorang yang egois, orang yang mencintai secara buta atau apapun namanya yang jelas kita tidak boleh mencintai segala sesuatu sampai melupakan diri kita sendiri, apalagi nekat melakukan tindakan-tindakan yang merugikan bagi diri kita sendiri.

Pergulatan panjang yang mencengkeram otak dan cara berpikir warasku, menyebabkan aku tergeletak dalam rasa sakit yang menyayat hatiku. Awalnya sakit hati, lama-lama menjalar ke semua persendian, menyelusuri rongga-rongga gigiku sampai ke seluruh jiwa dan ragaku. Sakit itu begitu terasa sampai ke akar-akar gigiku yang tersisa, hingga gusi ini menggelembung sampai mulutku terasa lebam dan bernanah. Sakit sekali rasanya. ”Naudhubilahi Min Dzalik”.

Satu hari pasca penolakan itu, aku terkapar dan terbaring dalam kamarku. Dengan sisa-sisa energi, aku bangkit dan beranjak ke Dokter Gigi untuk menyembuhkan rasa sakit gigiku yang bengkak 2 kali lipat besarnya. Aku meminta dokter gigi muda yang praktek itu segera mencabut gigiku. Gigi geligi yang menyakitkan itu segera berhasil disembuhkan dan aku berada dalam rasa kedamaian yang mendalam, karena bukan hanya gigiku yang berhasil disembuhkan, tapi jiwa dan ragaku itu berhasil terobati saat dokter gigi itu mengatakan ”Siap Menjadi Pendamping Hidupku”. Suratan takdir cinta memang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa.

Posted by: sudyusbarbassy | 27 Desember 2008

CINTA ABSURD

Aku tidak tahu perasaanmu kepadaku, selama ini aku hanya berasumsi saja bahwa kamu mencintaiku. Sepatah katapun kamu tidak pernah ngomong jika kamu mencintaiku, tapi perbuatan dan sikapmu selama ini memperlihatkan bahwa kamu begitu peduli kepadaku. Saat aku mendesakmu, kau hanya mengatakan :
“Entahlah, aku tidak tahu, jangan paksakan aku mengatakan kata cinta kepadamu, karena itu sangat sulit bagiku” katamu kepadaku di saat hubungan persahabatan plus yang kita jalani berusia lebih dari 2 tahun.

Konon kamu takut dengan ibumu yang sudah menjodohkanmu dengan seorang pria dari kesatuan berbaju loreng. Ibumu sangat mengharapkan agar ada salah satu anaknya yang menikah dengan tentara, sementara harapan ibumu ada pada kamu dari semua anak-anaknya.

Enam tahun memang bukan waktu yang pendek untuk melupakan sebuah kenangan, apalagi kenangan indah yang terpatri dalam sanubariku.  Aku masih teringat saat kamu marah kepadaku, kau hanya diam bagaikan batu karang. Diam dan beku tanpa sepatah katapun, sementara aku terus menunggumu sampai setengah jam dalam diam. Waktu penantian untuk mengatakan kata Iya, begitu lamanya, sampai akhirnya aku harus tega meninggalkanmu karena kau tidak mau diajak pergi.

Aku dan kamu akhirnya menikah dengan pasangan masing-masing. Aku memilih hidup di Bandung, sementara kau tetap tinggal di kota kelahiranmu, Semarang. Setelah enam tahun kita berpisah, aku kaget setelah mendengar penuturan dari ibu kost kita yang dulu. Ternyata kau tidak memilih pilihan yang sudah ditentukan ibumu. Kau lebih memilih lelaki lain yang menurutmu bisa bersanding dan membahagiakanmu, walaupun tanpa restu kedua orang tuamu. Kau berani berkorban untuknya sedemikian hebatnya dibandingkan pengorbanannya kepadamu. Kau begitu terbius dengan seorang laki-laki pilihanmu, walaupun kata orang lain bukan pilihan favorit dibandingkan dengan para lelaki yang sebelumnya mendekatimu, termasuk aku.

Aku tidak menyesal karena kamu tidak memilihku, mungkin karena bukan jodohnya. Aku hanya menyesalkan ”Mengapa kamu berani menentang arus yang begitu derasnya, sehingga hidupmu begitu terombang-ambing oleh gelombang kehidupan yang kamu ciptakan sendiri, sangat deras dan hampir menyeretmu ke ambang keputusasaan”. Lagi-lagi kamu yang harus berkorban untuk semuanya. Kenapa kamu tidak memilih laki-laki yang mencintaimu, tapi justru memilih dengan laki-laki yang kamu cintai.

Aku jadi ingat temanku, yang mengatakan bahwa cinta adalah sebuah bentuk energi yang tak pernah padam, cinta akan selalu ada dalam diri manusia dan dengan cinta, maka manusia akan menikmati segala macam rasa keindahan dalam hidup seperti : kedamaian, rasa benci, kententraman, rasa kecewa, dikhianati, bahagia dan sebagainya. Jika benar postulat temanku itu, maka kau akan selalu capek karena energimu dalam cinta yang tidak sebanding dengan lelaki pilihanmu itu pasti akan mengantarkanmu pada kekecewaan hidup yang mendalam.

Saat kamu SMS aku yang terakhir kalinya,  aku masih merasakan bahwa kamu tetap seperti yang dulu, seperti 6 tahun yang lalu, yang selalu hangat dan bergembira jika bersama denganku. Kau selalu memberikan semangat baru, memberikan dorongan dalam asa kepadaku, selalu tersenyum dan tertawa dengan suara khasmu dan selalu terus berbicara mengagumi sifat dan karakterku, walaupun semuanya absurd dalam cinta antara kau dan aku.

Posted by: sudyusbarbassy | 18 Nopember 2008

AKU BERHAK MEMILIH

”Aku memang bukan manusia yang sempurna sebagaimana seorang nabi, akan tetapi salahkah aku jika aku harus menentukan istri pilihanku yang mendekati sempurna berdasarkan penilaianku” gumanku dalam hati saat aku harus menentukan pilihan wanita yang akan aku jadikan sebagai istriku.

Laki-laki boleh memilih dan wanita berhak menolaknya. Semua itu adalah pilihan, yah pilihan hidup yang akan dilakoninya dalam mengarungi bahtera kehidupan yang fana ini.

Aku juga pernah membaca khadist nabi yang berbunyi :
“Perempuan itu dikawini atas empat perkara, yaitu: karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, atau karena agamanya. Akan tetapi, pilihlah berdasarkan agamanya agar dirimu selamat.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Kondisi riil yang sebenarnya sangatlah susah untuk mendapatkan wanita yang mempunyai spesifikasi pilihan yang lengkap dengan kriteria keempat-empatnya ada dalam diri wanita. Semuanya mempunyai nilai positip di satu sisi dan negatif di sisi yang lainnya. Itulah hidup, tidak ada yang sempurna. Batasan-batasan selalu muncul bersamaan saat seorang laki-laki sedang  menentukan pilihan wanita yang akan dipersunting menjadi seorang istrinya.

Untuk mempermudah screening pemilihan terhadap calon istriku, aku berusaha untuk mengelompokkan berbagai sifat yang masuk dalam kategori karakter yang sejenis.

Seperti, pilihan karena hartanya, aku mengelompokkan sifat yang memperkuat kategori ini, antara lain :
 Kondisi wanita yang akan dipilih, sudah kerja atau belum
 Jumlah harta
 Pendidikan
 Gaya hidup

Untuk pilihan karena keturunannya, aku berusaha untuk mengelompokkan sifat yang memperkuat kategori ini, dengan melakukan screening sebagai berikut :
 Kondisi orang tua (calon mertua)
 Pendidikan calon mertua
 Sifat pembawa genetis, seperti buta warna, kanker dan sejenisnya
 Kondisi perkawinan mertua
 Karakter orang tua

Untuk pilihan karena kecantikannya, aku mengelompokkan sifat yang memperkuat kategori ini, sebagai berikut :
 Perawan
 Anggota tubuh lengkap
 Penampilan fisik menyenangkan
 Subur dalam peranakkan
 Cerdas dan bermental tidak lemah

Untuk pilihan karena agamanya, aku mengelompokkan sifat yang memperkuat kategori ini, antara lain :
 Amanah (dapat dipercaya)
 Qanaah (menerima)
 Menyenangkan bila dipandang
 Sabar
 Mengerti agama
 Mencintai

Dari masing-masing kriteria pemilihan aku membuat score penilaian dengan bobot sebagai berikut :

Harta : Keturunan : Cantik : Agama = 23% : 23% : 23% : 31%

Hasilnya luar biasa, karena tidak ada seorang wanitapun yang mempunyai nilai di atas 75% berdasarkan scoring penilaian yang aku bikin sendiri. Rangkingisasi terhadap wanita-wanita yang aku kagumi selama ini hanya sebatas 60% dan tidak lebih dari itu. Walaupun begitu aku terus berjuang untuk mendapatkan wanita idamanku melalui lorong-lorong gelap dan berliku. Aku terus berjuang dan berjuang sampai aku mendapatkan kriteria yang berada di atas 75% nilai scoring.
                                                                    # # #

Dalam kebingungan menentukan jodohku selama ini, aku pernah dibenturkan pada penuturan seorang ustad yang selalu terngiang-ngiang dalam ingatanku. Dalam perjalanan napak tilas yang pernah kulakukan bersama-sama teman-teman pengajianku, aku disuruh Pak Ustad mengambil satu ranting kehidupan yang harus aku jalani.
 
Ustad itu pernah bilang kepadaku :”Sekarang cobalah anda berjalan dan lewatilah hutan yang ada di depan anda, ambilah salah satu ranting dari pohon yang tertinggi yang anda lewati, syaratnya anda tidak boleh balik lagi dan tidak boleh mengambil lebih dari satu ranting atau mengganti ranting lain yang telah kau ambil”

Aku terus berjalan menelusuri hutan kecil yang ada di Kabupaten Kendal. Di tengah perjalanan aku melihat pohon yang paling tinggi menurutku, dia kokoh dan tinggi menjulang diantara pohon-pohon yang lainnya, akan tetapi aku tidak jadi mengambil rantingnya karena aku tetap beranggapan bahwa di depan sana akan ada pohon tinggi lagi. Begitu aku melihat pohon paling tinggi yang lain, aku hendak memungut satu rantingnya seperti yang disyaratkan oleh Pak Ustad tersebut, akan tetapi aku tidak jadi mengambilnya lagi karena beranggapan bahwa di depanku ada pohon yang lebih tinggi lagi yang belum aku lewati. Begitu seterusnya sampai aku selesai melewati hutan kecil itu dan tidak mengambil ranting yang disyaratkan oleh Pak Ustad.

Di akhir perjalanan napak tilas, aku ditanya oleh Pak Ustad tersebut :
”Hai Fulan, apakah kamu melihat pohon yang paling tinggi menurutmu” tanya Pak Ustad.
”Benar Pak Ustad” jawabku lemah.
”Lalu, apakah kamu mengambil rantingnya?” tanya Pak Ustad kemudian.
”Tidak Pak Ustad” jawabku lagi.
”Kenapa kamu tidak mengambilnya” tanya Pak Ustad lagi.
”Karena aku beranggapan akan ada pohon tertinggi lagi di hadapanku, sampai aku selesai perjalanan dan ternyata tidak mendapatkan pohon yang tertinggi lagi” jawabku kepada Pak Ustad.
”Kalau begitu, kamu harus mengulangi perjalanan ini sekali lagi” kata Pak Ustad tegas kepadaku.

Akhirnya aku harus mengulangi perjalanan 3 jam jalan kaki menelusuri hutan itu, setelah sebelumnya diantar oleh temanku menggunakan sepeda motor menuju ke awal pemberangkatan. Garis start dan finish yang berjarak sekitar 35 km itu, bisa dilalui dengan motor selama setengah jam, akan tetapi dengan jalan kaki bisa mencapai 3 jam lebih. Kaki ini terasa begitu pegal dan capek setelah berjalan 70 km, semua ini karena kesalahanku.

Begitu sampai pada garis finish yang kedua kalinya, aku ditanya lagi oleh Pak Ustad yang sangat kami hormati.

”Hai Fulan, apakah kamu melihat pohon yang paling tinggi menurutmu” tanya Pak Ustad.
”Benar Pak Ustad” jawabku lemah.
”Lalu, apakah kamu mengambil rantingnya?” tanya Pak Ustad kemudian.
”Benar Pak Ustad” jawabku lagi.
”Apakah kamu yakin bahwa ranting yang kami ambil adalah milik pohon yang paling tinggi di hutan itu” tanya Pak Ustad lagi.
”Kelihatannya bukan Pak Ustad, aku hanya mengambil ranting pohon ini karena anggapanku, inilah pohon tertinggi, tapi ternyata bukan” jawabku lagi.
”Ok, berarti sudah berhasil” jawab Pak Ustad sambil mengangguk-anggukan kepalanya.

Kemudian para santri yang mengikuti pesantren kilat itu dikumpulkan dalam satu lapangan luas. Saat itu Pak Ustad memberikan wejangannya kepada kami :

”Ketahuilah, bahwa umur manusia itu tidak pernah balik lagi, yang tadinya tua berubah menjadi muda kembali, yang tadinya muda berubah menjadi balita dan sebagainya. Perjalananmu dalam melewati hutan yang tidak boleh balik lagi, aku ibaratkan sebagai umurmu yang selalu berjalan dari start lahir sampai ke finish kematian” kata Pak Ustad dengan penuh wibawa.

Pak Ustad melanjutkan ceramahnya lagi :
”Dari sana aku paksakan kalian mengambil satu ranting pilihan dari pohon yang tertinggi menurut kalian, aku ibaratkan hal itu sebagai istri-istri kalian yang akan kalian nikahi kelak. Jadi istri-istri kalian itu bukan pohon yang paling tinggi di antara pohon-pohon yang lain, istri kalian adalah pohon paling tinggi menurut perkiraan kalian. Jika kalian tidak mengambil salah satu ranting pohon yang aku syaratkan karena bingung mencari pohon yang tertinggi, maka ranting-ranting itu akan keburu diambil orang sementara waktu tidak akan kembali berbalik”.

Jantungku bergetar keras mendengar penuturan Pak Ustad. Di usiaku yang hampir mencapai 40 tahun ini, aku selalu dihadapkan dalam pencarian figur wanita yang sempurna menurutku. Aku tidak segera mengambil ranting-ranting tersebut karena aku selalu beranggapan akan ada pohon lain yang lebih tinggi lagi di hadapanku sampai aku mendekati garis finish perjalanan.

Kriteria scoring yang telah aku pahatkan dalam anganku sebelumnya aku revisi kembali. Yang terpenting bukanlah aku harus menentukan wanita yang mempunyai nilai lebih dari 75% akan tetapi wanita yang mau menerimaku sesuai dengan scoring dalam diriku, karena nilai scoringku juga belum tentu lebih dari 50% di hadapan para wanita.

(Diambil dari cerita sahabatku)

Older Posts »

Categories